Setiap Cobaan Datang Sebuah Proses Pendewasaan Diri |

Hot News

Menakar Haji 2024, Antara Kesiapan Pemerintah Indonesia Versus Ghirah Masyarakat Oleh: Mubasyier Fatah Penulis adalah Koordinator Bidang Ekonomi Kreatif , Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Bendahara Umum Pengurus Pusat Mahasiswa Ahluth Thoriqoh Al-Muktabarah An-Nahdhiyyah (PP MATAN) TAHUN 1445/2024 M adalah tahun penuh berkah bagi Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar kedua di dunia (telah terlampai Pakistan belum lama ini), melansir data yang dikeluarkan oleh World Population Review 2024. Betapa tidak, pada tahun ini Indonesia mendapat kuota jamaah haji terbesar sepanjang sejarah penyelenggaran haji Indonesia. Direktur Pelayanan Haji dalam Negeri, Saiful Mujab mengatakan awalnya pemerintah Arab Saudi menyediakan kuota untuk 221.000 jamaah. Namun, total jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini mencapai 241.000 orang, terdiri atas 213.320 jamaah haji reguler, dan 27.680 jamah haji khusus. Pertanyaannya, bagaimana kesiapan pemerintah Indonesia untuk melayani jamaah haji yang berjumlah sangat besar itu? Atau, langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar penyelenggaran haji tahun ini dan tahun-tahun beriikutnya berjalan efektif dan sukses? Sejatinya, kesiapan Indonesia dalam melaksanakan program haji sendiri mencakup tiga hal utama. Yaitu pertama, kesiapan Infrastruktur seperti Asrama Haji, Transportasi menuju Bandara, Terminal Keberangkatan di Bandara, dan Fasilitas Ibadah Haji. Kedua, kesiapan tata kelola, mulai dari pendataan calon jemaah haji, pendidikan dan pelayanan di asrama haji, penetapan Jadwal Keberangkatan, Sistem Manajemen dan Sistem Komunikasi. Ketiga, kesiapan Sumber Daya Manusia yang bertanggung jawab mengelola ibadah haji. Kesiapan infrastruktur Haji 2024 Menghadapi jumlah jemaah yang sangat besar Pemerintah Indonesia perlu merancang strategi dan langkah-langkah persiapan yang kongkrit, momen puncak haji 2024 menjadi yang lebih khusuk dan meriah. Terkait infrasruktur pendukung penyelenggaraan ibadah haji, Indonesia memang sudah lama melakukan persiapan. Diketahui pemerintahan Jokowi jilid I dan jilid II sekarang, sangat fokus membangun sektor infrastruktur, baik darat, laut, udara dan ‘jaringan internet’. Pembangunan infrastruktut seperti jalan raya, jalan toll, jalur kereta api, pelabuhan laut, bandara dan jaringan internet yang begitu massif selama hampir 10 tahun terakhir, sangat memudahkan mobilitas dan aktiitas komunikasi para (calon) jamah haji. Bahkan, Musim Haji 2018 lalu menjadi istimewa karena diawali dengan peresmian Terminal Haji Khusus di Bandara Sukarno Hata pada tanggal 21 Juli 2018, oleh Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla. Selain itu pemerintah menyediakan infrastruktur pendukungan pelaksanaan haji, termasuk 11 rumah sakit untuk memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah haji, dan membangun asrama embarkasi haji. Menurut Saiful Mujab, per Mei 2024, terdapat 14 asrama haji embarkasi di seluruh Indonesia. Ke-14 asrama embarksi yang akan melayani pemberangkatan jemaah haji dimaksud adalah Embarkasi Aceh (BTJ), Medan atau Kuala Namu (KNO), Batam (NTH), Oadang (PDG), Palembang (PLM), Jakarta Pndk Gede (JKG), Jakarta Saudia (CKG SV adau JKS), Kertajati (KJT) Solo (SOC), Surabaya (SUB), Lombok (LOP), Balipapan (BPN), Banjarmasi (BDJ), dan Makasar atau Ujungpandang (UPG). Tata Kelola Ibadah Haji Dari aspek tata kelola diketahui ada enam tahapan yang harus dilalui setiap calon jemaah haji, yakni pendaftaran, daftar tunggu, kenaikan biaya keberangkatan, pelatihan, pemeriksaan kesehatan, dan pembekalan teknis umum sebelum pemberangkatan. Berdasarkan data statistik, kita mempunyai masalah yang sangat serius dalam mempersiapkan jutaan penduduk yang menunaikan ibadah haji. Memang, kita sudah memilik perangkat hukum yang mengatur tata kelola terkait pemberangkatan jemaah untuk menenuaikan ibadah haji. Kita memiliki Undang-Undang (UU) Ibadah Haji yaitu UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaran Ibadah Haji sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Pemerintah Pegganti UU Nomor 2 Tahun 2009 yang telah ditetapkan menjadi UU oleh UU Nomor 34 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pengganti UU Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Meski demikian, tahap pendaftaran calon jemaah haji kita masih terbelenggu oleh istilah yang digunakan berulang kali yaitu “menunggu dalam antrian”. Istilah “mengantri” mungkin lebih cocok menggantikan istilah ‘antrean global’ yang disebutkan dalam Statuta Haji. Pada masa kepemimpinan Soeharto istilah ini ramai diperdebatkan ketika akan giliran haji, pemerintah kemudian menerbitkan ‘surat antrean’. Memang, harus diakui bahwa daftar tunggu (waiting list) untuk calon haji reguler sangat terkait dengan musim haji yang terbatas dan adanya kuota haji yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi bagi umat Muslim Indonesia. Dari sisi biaya, setiap calon jemaah secara individu sudah berkomitmen dan menabung secara mandiri. Bahkan jemaah haji reguler seringkali mendapat kemudahan. Misalnya, setiap dua tahun berturut-turut, Kementerian Agama bersama Badan Pengelola Dana Haji Indonesia (BPKH) dan organisasi donor dan filantropi lainnya mengadakan acara grand launching keuangan pada Hari Menabung Haji Nasional biasanya dengan cek dan keringanan uang bagi calon jamaah yang telah menyelesaikan pembayaran. Terkait aspek kesehatan jemaah haji, pemerintah memang telah menyusun pedoman pelayanan. Seluruh calon jemaah haji wajib menjalani pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh komite kesehatan pusat atau di dinas kesehatan masing-masing provinsi. Untuk tahun 2024, pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji meliputi pemeriksaan dasar, pemeriksaan penunjang, laboratorium, juga da tes kemandirian yang disebut ‘activity daily living’. Ada pula kesehatan mental dengan Self Rating Questinaire (SRQ) 20. Apabila saat pemeriksaan kesehatan, calon jemaah dalam kondisi sakit, maka tidak harus dipaksakan, tetapi bisa diberangkatkan tahun berikutnya. Meski pemerintah sudah menetapkan proseder pemeriksaan kesehatan yang ketat, banyak calon jemaah haji yang belum memahami pentingnya istithaah kesehatan jamaah haji. Padahal, istithaah kesehatan memiliki makna kemampuan jamaah haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur dengan pemeriksaan. Hal ini terjadi karena calon jemaah haji tidak mendapatkan pendidikan atau sosialisasi yang memadai terkait persyaratan kesehatan ibadah haji. Terkait ini, pemerintah Indonesia memang pernah mengalami gangguan dalam pengelolaan saat Covid-19 melanda dunia pada tahun 2020. Namun, setelah wabah Covid-19 berangsur-angsur redah, pemerintah Indonesia kembali giat mempersiapkan program haji. Setelah Covid-19, Pemerintah Indonesia memang ingin mempercepat pembentukan dewan haji yang lebih siap dan fokus menjalankan tata kelola haji. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, usai Kajian Akuntabilitas (SPI-3) Kementerian Agama Tahap III, salah satu tugas yang ditetapkan adalah mengembangkan sistem penyelenggaraan haji yang otonom. “Kami merancang tiga jenis jemaah haji, yaitu regular, turn-back (thala’in), dan out-of-service-extender. Sedangkan pengaturan pendelegasian haji dalam satu tahun belum dirancang,” jelas Menteri Qumas, Sabtu, 6 November 2021 lalu. Pada tahun 2024, Indonesia berencana mengelola program haji secara lebih efektif. Meski rencana tersebut telah diumumkan oleh Menteri Agama, tetapi kepada publik belum banyak informasi mengenai kesiapan Indonesia. Yang jelas, supaya dapat mengelola dan menyediakan pelayanan prima terhadap tiga jenis jemaah haji tersebut, pemerintah Indonesia perlu melakukan peningkatan kapasitas dan keandalan negara, agar seluruh kebijakan dan aturan hukum dijalankan dengan integritas penuh, dengan itikad baik, dan tanggung jawab hukum dalam rangka pelayanan nasional, yang disebut tata pemerintahan yang baik (good governance). Tata kelola haji sangat menekankan aspek manajemen dan komunikasi. Terkait ini, pemerintah perlu ingat bahwa yang perlu dijadikan landasan untuk pengelolaan yang efektif dalam keberangkatan haji, aspek infrastruktur fisik seperti asrama embarkasi haji berikut fasilitas transportasi darat dan udara saja, melainkan memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi dan ‘intrastruktur langit’ atau jaringan internet. Pada prinsipnya, pengelolaan haji menekankan pelayanan kepada jemaah haji melalui komunikasi antarpribadi yang mengacu pada proses komunikasi timbal balik. Dalam era informasi digital seperti sekarang, komunikasi antarpribadi dalam rangka pengelolaan haji dapat didukung oleh pemanfaatan teknologi informasi dan jaringan internet. Hal ini terutama untuk mengatasi situasi dimana jemaah haji berada di tempat yang sulit dijangkau secara fisik. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan alat telekomunikasi digital dan jaringan internet tidak berjalan efektif, karena rata-rata para jemaah haji sudah berusia di atas 40 tahun dan tidak terbiasa memanfaatkan perangkat teknologi baru tersebut. Visa Kuota dan Non Kuota Menilik kuota haji yang diperoleh Pemerintah Indonesia tahun ini sebagaimana di atas (213.320 jamaah haji reguler, dan 27.680 jamaah haji khusus), dibandingkan semakin panjangnya waktu antrian dari tahun ke tahun, menimbulkan problem tersendiri di tengah meningkatnya ghirah (animo yang disertai kesadaran keagamaan) masyarakat yang meningkat untuk segera menyempurnakan Rukun Islamnya. Belum lama ini Kementrian Agama Indonesia dan Perwakilan Kementrian Haji dan Umroh Kerajaan Arab Saudi, melakukan release media (05/05/2024) yang menyatakan bahwa yang bisa menyelenggarakan ibadah haji hanya jamaah yang memiliki visa haji dan atau visa undangan Kerajaan Arab Saudi (Mujamalah) dan menghimbau kepada masyarakat untuk tidak tergiur dengan tawaran-tawaran keberangkatan haji menggunakan visa non haji seperti visa turis, visa petugas haji, visa ummal, visa ziarah hingga visa multiple. Namun yang perlu disadari bersama adalah adanya gap antara kuota haji yang tersedia, panjang antrian tunggu dan ghirah masyarakat untuk melaksanakan ibadah haji, khususnya bagi masyarakat yang memiliki kemampuan financial, himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah seakan tidak memiliki makna dan sekaligus ceruk bisnis yang dimanfaatkan oleh operator-operator haji dan travel baik di dalam negeri maupun yang ada di Arab Saudi sana. Bagi masyarakat yang terpenting adalah memiliki visa untuk bisa masuk ke negara Arab Saudi dan kepastian yang diberikan oleh operator travel haji dalam negeri dan muassah haji di Arab Saudi dalam bentuk ijin melaksanakan haji — Tasreh Haji — sehingga bisa memasuki dua kota suci Makkah – Madinah dan hadir di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Penting menjadi perhatian bagi Pemerintah Indonesia terhadap seluruh jamaah haji Indonesia yang bisa memasuki Arab Saudi baik melalui visa haji kuota maupun visa non kuota, adalah memberikan perlindungan dan pelayanan kepada jamaah haji Indonesia sebagaimana amanat UUD 1945 pasal 28 D ayat (1), juga dalam Undang-undang RI Nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri pada bab V pasal 18 – 24. Kuncinya pada SDM Tanpa mengabaikan aspek-aspek lain, kesiapan dan kunci sukses penyelenggaraan haji adalah sumber daya manusia (SDM). Memang sudah sejak lama pemerintah melalui Kementerian Agama berupaya meningkatkan kompetensi dan profesionalisme SDM, baik dari kalangan Kemenag sendiri maupun pihak swasta seperti biro perjalanan, yang mendapat amanah untuk ikut menyelenggarakan haji. Salah satu langkah strategis yang ditempuh Kementerian Agama untuk meningkat

Australia Holiday Trip

Faktareview.com  – Australia merupakan salah satu negara tetangga kita yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Indonesia, dan bila di tempuh melalui jalur penerbangan Jakarta ke Sydney kurang lebih memakan waktu 8 jam. Sebagai negara tetangga Indonesia, Australia menjadi pilihan sebagian warga Indonesia untuk berlibur atau berwisata bahkan banyak warga Indonesia juga yang menuntut ilmu di sana. Selain perjalanannya yang tidak terlalu jauh dari Indonesia, Australia juga memiliki tempat-tempat menarik yang mengundang  tourist-tourist untuk berkunjung atau  berlibur di sana. Sebelum anda memutuskan untuk berlibur maupun menuntut ilmu di Australia, sebaiknya terlebih dahulu mencari tahu referensi tentang kondisi iklim, tradisi dan juga keadaan yang sering  terjadi di Aussie.

Seperti penuturan Direktur Operasional PT. DREWMARKS (IPR Services) Donny Agus Prakoso, B.A., M.Sc., kepada www.faktareview.cow,  saat berlibur maupun saat menuntut ilmu di Australia beberapa waktu lalu. Uniknya kata Donny, Australia memiliki perbedaan 4 musim yaitu musim semi (spring), musim gugur (Auntumn), musim panas (summer), dan musim dingin (winter). Cuaca di Australia juga memang cenderung sedang sepanjang tahunnya. Namun iklimnya bisa menjadi bermacam-macam di sebabkan oleh ukuran benuanya yang cukup besar.

Musim semi yang terjadi di Australia biasanya akan berlangsung dari bulan September sampai bulan November. Menurut Donny musim semi yang terjadi di Australia kurang lebih hampir sama dengan musim semi di negara lain, yaitu musim dimana bermekarannya bunga-bunga yang cantik dan indah. Namun cuaca di musim semi biasanya panas dan dingin, tetapi lebih dominan panas. Untuk sebagian orang Aussie, musim semi adalah musim yang sangat tepat untuk berpergian atau berpiknik bersama keluarga. Dimana musim semi kita bisa menikmati festival bunga tulip, yang biasanya digelar di kota Melbourne. Bahkan kita bisa menikmati berbagai hiburan di festival tersebut, sembari bisa menikmati beragam kuliner khas Holland yang bisa menggoda selera kita.

Lebih lanjut,  Donny menggambarkan kepada www.faktareview.com  bahwa kehidupan di Australia sangat berbeda jauh dibandingkan dengan kehidupan di Indonesia. Seperti contoh perbedaan dalam hal aneka kuliner, minuman, fashion, dan lain-lain. Bahkan kita akan menjumpai banyak store-store di sana pukul 18.00pm sudah banyak yang tutup. Belum lagi perbedaan dari cuaca yang membuat saya juga terkadang jetlag karena jam yang memiliki perbedaan yaitu 4 jam. Sedangkan untuk pilihan makanan khas Indonesia, sudah cukup banyak kita bisa jumpai Indonesian Food di sana.

Menurut Donny, ada beberapa daerah di Australia yang sangat menarik untuk dikunjungi jangan sampai terlewatkan saat berlibur ke Aussie, yaitu kota Sydney, Melbourne, Brisbane, dan kota-kota lainnya. Dari beberapa daerah yang pernah saya kunjungi, kota Sydney lebih menarik dibanding daerah lainnya. Kenapa?, karena kota Sydney selain termasuk daerah perkotaan seperti halnya Jakarta, Sydney juga memiliki pantai yang sangat indah bernama Pantai Bondai Beach. Dimana  Pantai Bondai Beach menjadi tempat berkumpul orang-orang asli Australia, baik untuk berjemur atau melakukan surfing. Orang Australia banyak yang suka waktu disaat summer karena bisa berjemur dan bisa melakukan surfing karena saat itu gelombangnya tinggi.

Kota Sydney juga memiliki tempat menarik yaitu Opera House Sydney yang menjadi Icon kota tersebut. Seperti layaknya Merlion di Singapore atau Monas di Jakarta. Kota Sydney, selain menjadi kota favorite  bagi tourist yang datang, Sydney juga memiliki tujuan atau destinasi seperti shopping, nightlife dan berjalan-jalan. Dan apabila ingin berjalan-jalan ke Blue Mountain kata Donny, untuk bisa berfoto (berselfi ria) dengan hewan Koala sebagai hewan Iconic Australia, dan bisa melihat Kangguru secara dekat. Itulah kelebihan dari kota Sydney, selain memiliki kota yang menarik juga menjadi tujuan bagi pengujung atau tourist untuk datang berlibur ke sana, ungkapnya.

Sedangkan kota Melbourne, menurut Donny lebih tepatnya kalau dibilang kota pelajar. Karena di kota Melbourne banyak sekali pelajar yang tinggal maupun menuntut ilmu atau belajar di kota ini.  Seperti halnya Indonesia,  banyak warganya yang datang ke kota Melbourne untuk belajar atau menuntut ilmu.

Untuk soal kuliner, saya pernah mencoba mempelajari waktu saya menuntut ilmu di sana. Tetapi saya kurang bisa membedakan antara masakan australian authenthic food with western food yang mereka jual, karena saya lebih sering mendatangi indonesian restaurant atau terkadang saya bersama teman kuliah mencoba memasak sendiri masakan Indonesia, tukasnya.

Untuk soal harga makanan saya melihat ada beberapa perbedaan yang significant dengan di Indonesia, satu contoh harga nasi goreng di Australia bisa mencapai Rp. 80.000,-/100.000,- perporsinya, karena pada 2014 – 2015 itu Indonesia masih memiliki rate dollar yang berbeda dengan Australia kisaran 1$ Australia sama dengan Rp 10.000,-. Itulah harga yang mahal untuk porsi anak mahasiswa, bahkan saya pernah mencoba restaurant Indonesia menjual makanan dengan harga 21$ Australia setara dengan harga Rp 210.000,-.

Dari sisi transportasi, Donny menerangkan bahwa kurang lebih hampir sama dengan transportasi yang berada di Indonesia, seperti kereta maupun transportasi lainnya. Tetapi untuk taxi, ataupun kendaraan pribadi di Australia sedikit lebih mahal karena mungkin biaya bahan bakar minyak (bbm) lebih mahal karena perbedaan harga nilai tukar uang itu sendiri.

Soal Culturalnya, menurut saya di Australia sangat berbeda dengan di Indonesia, karena  saya mungkin biasa hidup di kota yang memiliki empati, keramahan yang saling menyapa yang saling membutuhkan dalam kehidupan dimana saya hidup di lingkungan yang tentram. Jadi berbanding terbalik dengan kehidupan di Australia, yang banyak warganya menyukai kehidupan malam. Kemudian saya juga melihat mereka sendiri memperlihatkan ketidak pedulian diantara satu sama lainnya. Tapi terkadang juga saya dapat menemukan orang orang yang terkadang memiliki keramahan layaknya orang Indonesia.

Sedangkan waktu terbaik untuk datang ke Australia, menurut  anak dari pengacara terkenal Ludiyanto (Spesialis HKI) ini menyarankan tergantung tujuannya, apa mau berlibur  (Australia Holiday Trip) atau tujuan lainnya, karena Australia memiliki 4 musim, dimana musim dinginnya dengan musim panasnya sangatlah exstreme bisa dibilang lebih panas dari kota Jakarta. Kalau saya melihat  Februari – Maret banyak orang pergi ke Australia karena cuaca yang cukup baik, dan mungkin lebih baik menghindari dari bulan dimana sedang musim panas. Dan enaknya di Australia, kita bisa menyetir kendaraan mobil sendiri, karena cukup dengan menggunakan license Indonesia bisa digunakan, terkecuali kalau anda seorang pelajar, anda harus mempunyai  international driving license tersendiri. Dengan bisa membawa mobil sendiri kita bisa menikmati indahnya kota Kangguru, dengan banyaknya jalur yang tersebar di seluruh Australia, kondisi jalanannya yang berbeda dengan di Indonesia, ditambah lagi   dengan pemandangan yang indah dan menarik, ungkap Donny mengakhiri obrolannya.  HMD – faktareview.com

Share Article:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: Undefined property: stdClass::$data in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 4894

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 5567

Berita Terbaru

  • All Post
  • Autotekno
  • Beauty
  • Berita
  • Dunia
  • Ekonomi & Bisnis
  • Foto
  • Gaya Hidup
  • ILD
  • Konsultasi
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Photography
  • Redaksi
  • Sosok
  • Travel
  • Uncatagories
  • Warna
    •   Back
    • Politik
    • Hukum
    • Daerah
    • Pendidikan
    • Wawancara
    •   Back
    • Peluang Usaha
    • Entrepreneur
    •   Back
    • Fashion
    • Kesehatan
    • Travelling & Kuliner
    •   Back
    • Motivasi
    • Inspirasi
    • Training & Seminar
    • Info Warga
    • Komunitas

FAKTAREVIEW

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.
Edit Template

faktareview

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Semoga konten-konten faktareview.com yag hadirkan bisa dinikmati, bisa memenuhi kebutuhan informasi serta bisa ikut membangun kesadaran masyarakat  menuju masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Terimakasih Telah Berkunjung