Setiap Cobaan Datang Sebuah Proses Pendewasaan Diri |

Buku Catatan PAK HARTO

Suatu kali Prof. Dr. Ir. Tb. Bachtiar Rifai, mantan Rektor IPB, yang kemudian menjabat Ketua LIPI dan Duta Besar RI di Perancis, diundang dalam sebuah rapat kabinet. Agendanya membahas kebijakan pangan, khususnya soal perberasan. Dalam rapat itu, Pak Bachtiar diundang untuk menguraikan sejumlah data dan pandangannya.

Setelah ia selesai menguraikan paparannya, Presiden Soeharto segera menghidupkan mikrofon di depannya dan berbicara. “Pak Rifai, saya memperhatiken seluruh uraian Anda. Tetapi, ada satu masalah. Ketika Anda terakhir diundang ke sini, beberapa data yang Anda uraikan berbeda dengan  yang barusan dikemukakan. Saya punya catatannya,” ujar Pak Harto sembari membuka-buka buku catatannya dan membacakan isinya.

Prof. Bachtiar Rifai, sebagaimana diceritakan kembali olehnya kepada stafnya di LIPI, mengaku terkejut mendengar tanggapan Presiden. Ada dua sumber keterkejutannya. Pertama, ia tak menyangka jika Presiden benar-benar mencatat paparannya dalam rapat kabinet. Dan kedua, Presiden masih mengingat dengan baik apa yang ia sampaikan dalam rapat terdahulu dan mengkritik perbedaan data yang dikemukakannya.

Sesudah hilang keterkejutannya, Prof. Bachtiar Rifai segera menjelaskan perubahan konstruksi data yang dikemukakannya. Ia berterima kasih karena Pak Harto telah mempertanyakan hal itu.

Apa yang diceritakan Prof. Tb. Bachtiar Rifai di atas juga sering saya dengar, atau saya baca, dari catatan sejumlah orang yang pernah bekerja di sekitar Pak Harto, bahwa ia selalu membaca semua laporan yang disampaikan para menterinya. Bahkan, dalam berbagai kunjungan ke luar negeri, lampu kamar tidur Presiden disebut hampir tak pernah mati. Tumpukan laporan, bahan, dan catatan yang harus dipelajari Presiden, selalu berserak di mana-mana. Dan semuanya selalu dalam keadaan terbuka dengan berbagai coretan, koreksi dan komentar hampir di tiap halamannya, yang menunjukkan jika Presiden telah membaca naskah tersebut dengan seksama.

Barangkali itu sebabnya dulu kita tak pernah membaca ada kasus negara membangun waduk di suatu tempat, padahal tidak ada saluran irigasi di sekitarnya. Atau, negara tiba-tiba sibuk membangun jalan dan jembatan di suatu daerah, padahal tidak ada kendaraan yang pernah melintas di sana. Karena dulu Presiden selalu memperhatikan dan bisa mengkritisi apa yang disampaikan atau dilaporkan oleh anak buahnya.

 

Sumber:  Cindy Amelia

Share Article:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: Undefined property: stdClass::$data in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 4894

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 5567

Berita Terbaru

  • All Post
  • Autotekno
  • Beauty
  • Berita
  • Dunia
  • Ekonomi & Bisnis
  • Foto
  • Gaya Hidup
  • ILD
  • Konsultasi
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Photography
  • Redaksi
  • Sosok
  • Travel
  • Uncatagories
  • Warna
    •   Back
    • Politik
    • Hukum
    • Daerah
    • Pendidikan
    • Wawancara
    •   Back
    • Peluang Usaha
    • Entrepreneur
    •   Back
    • Fashion
    • Kesehatan
    • Travelling & Kuliner
    •   Back
    • Motivasi
    • Inspirasi
    • Training & Seminar
    • Info Warga
    • Komunitas
Keajaiban Topan  Al-Aqsa

Keajaiban Topan  Al-Aqsa Disadur oleh : Ust. Fathuddin Ja’far   Untuk pertama kalinya, pasukan Zionis…

FAKTAREVIEW

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.
Edit Template

faktareview

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Semoga konten-konten faktareview.com yag hadirkan bisa dinikmati, bisa memenuhi kebutuhan informasi serta bisa ikut membangun kesadaran masyarakat  menuju masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Terimakasih Telah Berkunjung