Setiap Cobaan Datang Sebuah Proses Pendewasaan Diri |

Hot News

Menakar Haji 2024, Antara Kesiapan Pemerintah Indonesia Versus Ghirah Masyarakat Oleh: Mubasyier Fatah Penulis adalah Koordinator Bidang Ekonomi Kreatif , Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Bendahara Umum Pengurus Pusat Mahasiswa Ahluth Thoriqoh Al-Muktabarah An-Nahdhiyyah (PP MATAN) TAHUN 1445/2024 M adalah tahun penuh berkah bagi Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar kedua di dunia (telah terlampai Pakistan belum lama ini), melansir data yang dikeluarkan oleh World Population Review 2024. Betapa tidak, pada tahun ini Indonesia mendapat kuota jamaah haji terbesar sepanjang sejarah penyelenggaran haji Indonesia. Direktur Pelayanan Haji dalam Negeri, Saiful Mujab mengatakan awalnya pemerintah Arab Saudi menyediakan kuota untuk 221.000 jamaah. Namun, total jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini mencapai 241.000 orang, terdiri atas 213.320 jamaah haji reguler, dan 27.680 jamah haji khusus. Pertanyaannya, bagaimana kesiapan pemerintah Indonesia untuk melayani jamaah haji yang berjumlah sangat besar itu? Atau, langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar penyelenggaran haji tahun ini dan tahun-tahun beriikutnya berjalan efektif dan sukses? Sejatinya, kesiapan Indonesia dalam melaksanakan program haji sendiri mencakup tiga hal utama. Yaitu pertama, kesiapan Infrastruktur seperti Asrama Haji, Transportasi menuju Bandara, Terminal Keberangkatan di Bandara, dan Fasilitas Ibadah Haji. Kedua, kesiapan tata kelola, mulai dari pendataan calon jemaah haji, pendidikan dan pelayanan di asrama haji, penetapan Jadwal Keberangkatan, Sistem Manajemen dan Sistem Komunikasi. Ketiga, kesiapan Sumber Daya Manusia yang bertanggung jawab mengelola ibadah haji. Kesiapan infrastruktur Haji 2024 Menghadapi jumlah jemaah yang sangat besar Pemerintah Indonesia perlu merancang strategi dan langkah-langkah persiapan yang kongkrit, momen puncak haji 2024 menjadi yang lebih khusuk dan meriah. Terkait infrasruktur pendukung penyelenggaraan ibadah haji, Indonesia memang sudah lama melakukan persiapan. Diketahui pemerintahan Jokowi jilid I dan jilid II sekarang, sangat fokus membangun sektor infrastruktur, baik darat, laut, udara dan ‘jaringan internet’. Pembangunan infrastruktut seperti jalan raya, jalan toll, jalur kereta api, pelabuhan laut, bandara dan jaringan internet yang begitu massif selama hampir 10 tahun terakhir, sangat memudahkan mobilitas dan aktiitas komunikasi para (calon) jamah haji. Bahkan, Musim Haji 2018 lalu menjadi istimewa karena diawali dengan peresmian Terminal Haji Khusus di Bandara Sukarno Hata pada tanggal 21 Juli 2018, oleh Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla. Selain itu pemerintah menyediakan infrastruktur pendukungan pelaksanaan haji, termasuk 11 rumah sakit untuk memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah haji, dan membangun asrama embarkasi haji. Menurut Saiful Mujab, per Mei 2024, terdapat 14 asrama haji embarkasi di seluruh Indonesia. Ke-14 asrama embarksi yang akan melayani pemberangkatan jemaah haji dimaksud adalah Embarkasi Aceh (BTJ), Medan atau Kuala Namu (KNO), Batam (NTH), Oadang (PDG), Palembang (PLM), Jakarta Pndk Gede (JKG), Jakarta Saudia (CKG SV adau JKS), Kertajati (KJT) Solo (SOC), Surabaya (SUB), Lombok (LOP), Balipapan (BPN), Banjarmasi (BDJ), dan Makasar atau Ujungpandang (UPG). Tata Kelola Ibadah Haji Dari aspek tata kelola diketahui ada enam tahapan yang harus dilalui setiap calon jemaah haji, yakni pendaftaran, daftar tunggu, kenaikan biaya keberangkatan, pelatihan, pemeriksaan kesehatan, dan pembekalan teknis umum sebelum pemberangkatan. Berdasarkan data statistik, kita mempunyai masalah yang sangat serius dalam mempersiapkan jutaan penduduk yang menunaikan ibadah haji. Memang, kita sudah memilik perangkat hukum yang mengatur tata kelola terkait pemberangkatan jemaah untuk menenuaikan ibadah haji. Kita memiliki Undang-Undang (UU) Ibadah Haji yaitu UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaran Ibadah Haji sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Pemerintah Pegganti UU Nomor 2 Tahun 2009 yang telah ditetapkan menjadi UU oleh UU Nomor 34 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pengganti UU Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Meski demikian, tahap pendaftaran calon jemaah haji kita masih terbelenggu oleh istilah yang digunakan berulang kali yaitu “menunggu dalam antrian”. Istilah “mengantri” mungkin lebih cocok menggantikan istilah ‘antrean global’ yang disebutkan dalam Statuta Haji. Pada masa kepemimpinan Soeharto istilah ini ramai diperdebatkan ketika akan giliran haji, pemerintah kemudian menerbitkan ‘surat antrean’. Memang, harus diakui bahwa daftar tunggu (waiting list) untuk calon haji reguler sangat terkait dengan musim haji yang terbatas dan adanya kuota haji yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi bagi umat Muslim Indonesia. Dari sisi biaya, setiap calon jemaah secara individu sudah berkomitmen dan menabung secara mandiri. Bahkan jemaah haji reguler seringkali mendapat kemudahan. Misalnya, setiap dua tahun berturut-turut, Kementerian Agama bersama Badan Pengelola Dana Haji Indonesia (BPKH) dan organisasi donor dan filantropi lainnya mengadakan acara grand launching keuangan pada Hari Menabung Haji Nasional biasanya dengan cek dan keringanan uang bagi calon jamaah yang telah menyelesaikan pembayaran. Terkait aspek kesehatan jemaah haji, pemerintah memang telah menyusun pedoman pelayanan. Seluruh calon jemaah haji wajib menjalani pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh komite kesehatan pusat atau di dinas kesehatan masing-masing provinsi. Untuk tahun 2024, pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji meliputi pemeriksaan dasar, pemeriksaan penunjang, laboratorium, juga da tes kemandirian yang disebut ‘activity daily living’. Ada pula kesehatan mental dengan Self Rating Questinaire (SRQ) 20. Apabila saat pemeriksaan kesehatan, calon jemaah dalam kondisi sakit, maka tidak harus dipaksakan, tetapi bisa diberangkatkan tahun berikutnya. Meski pemerintah sudah menetapkan proseder pemeriksaan kesehatan yang ketat, banyak calon jemaah haji yang belum memahami pentingnya istithaah kesehatan jamaah haji. Padahal, istithaah kesehatan memiliki makna kemampuan jamaah haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur dengan pemeriksaan. Hal ini terjadi karena calon jemaah haji tidak mendapatkan pendidikan atau sosialisasi yang memadai terkait persyaratan kesehatan ibadah haji. Terkait ini, pemerintah Indonesia memang pernah mengalami gangguan dalam pengelolaan saat Covid-19 melanda dunia pada tahun 2020. Namun, setelah wabah Covid-19 berangsur-angsur redah, pemerintah Indonesia kembali giat mempersiapkan program haji. Setelah Covid-19, Pemerintah Indonesia memang ingin mempercepat pembentukan dewan haji yang lebih siap dan fokus menjalankan tata kelola haji. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, usai Kajian Akuntabilitas (SPI-3) Kementerian Agama Tahap III, salah satu tugas yang ditetapkan adalah mengembangkan sistem penyelenggaraan haji yang otonom. “Kami merancang tiga jenis jemaah haji, yaitu regular, turn-back (thala’in), dan out-of-service-extender. Sedangkan pengaturan pendelegasian haji dalam satu tahun belum dirancang,” jelas Menteri Qumas, Sabtu, 6 November 2021 lalu. Pada tahun 2024, Indonesia berencana mengelola program haji secara lebih efektif. Meski rencana tersebut telah diumumkan oleh Menteri Agama, tetapi kepada publik belum banyak informasi mengenai kesiapan Indonesia. Yang jelas, supaya dapat mengelola dan menyediakan pelayanan prima terhadap tiga jenis jemaah haji tersebut, pemerintah Indonesia perlu melakukan peningkatan kapasitas dan keandalan negara, agar seluruh kebijakan dan aturan hukum dijalankan dengan integritas penuh, dengan itikad baik, dan tanggung jawab hukum dalam rangka pelayanan nasional, yang disebut tata pemerintahan yang baik (good governance). Tata kelola haji sangat menekankan aspek manajemen dan komunikasi. Terkait ini, pemerintah perlu ingat bahwa yang perlu dijadikan landasan untuk pengelolaan yang efektif dalam keberangkatan haji, aspek infrastruktur fisik seperti asrama embarkasi haji berikut fasilitas transportasi darat dan udara saja, melainkan memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi dan ‘intrastruktur langit’ atau jaringan internet. Pada prinsipnya, pengelolaan haji menekankan pelayanan kepada jemaah haji melalui komunikasi antarpribadi yang mengacu pada proses komunikasi timbal balik. Dalam era informasi digital seperti sekarang, komunikasi antarpribadi dalam rangka pengelolaan haji dapat didukung oleh pemanfaatan teknologi informasi dan jaringan internet. Hal ini terutama untuk mengatasi situasi dimana jemaah haji berada di tempat yang sulit dijangkau secara fisik. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan alat telekomunikasi digital dan jaringan internet tidak berjalan efektif, karena rata-rata para jemaah haji sudah berusia di atas 40 tahun dan tidak terbiasa memanfaatkan perangkat teknologi baru tersebut. Visa Kuota dan Non Kuota Menilik kuota haji yang diperoleh Pemerintah Indonesia tahun ini sebagaimana di atas (213.320 jamaah haji reguler, dan 27.680 jamaah haji khusus), dibandingkan semakin panjangnya waktu antrian dari tahun ke tahun, menimbulkan problem tersendiri di tengah meningkatnya ghirah (animo yang disertai kesadaran keagamaan) masyarakat yang meningkat untuk segera menyempurnakan Rukun Islamnya. Belum lama ini Kementrian Agama Indonesia dan Perwakilan Kementrian Haji dan Umroh Kerajaan Arab Saudi, melakukan release media (05/05/2024) yang menyatakan bahwa yang bisa menyelenggarakan ibadah haji hanya jamaah yang memiliki visa haji dan atau visa undangan Kerajaan Arab Saudi (Mujamalah) dan menghimbau kepada masyarakat untuk tidak tergiur dengan tawaran-tawaran keberangkatan haji menggunakan visa non haji seperti visa turis, visa petugas haji, visa ummal, visa ziarah hingga visa multiple. Namun yang perlu disadari bersama adalah adanya gap antara kuota haji yang tersedia, panjang antrian tunggu dan ghirah masyarakat untuk melaksanakan ibadah haji, khususnya bagi masyarakat yang memiliki kemampuan financial, himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah seakan tidak memiliki makna dan sekaligus ceruk bisnis yang dimanfaatkan oleh operator-operator haji dan travel baik di dalam negeri maupun yang ada di Arab Saudi sana. Bagi masyarakat yang terpenting adalah memiliki visa untuk bisa masuk ke negara Arab Saudi dan kepastian yang diberikan oleh operator travel haji dalam negeri dan muassah haji di Arab Saudi dalam bentuk ijin melaksanakan haji — Tasreh Haji — sehingga bisa memasuki dua kota suci Makkah – Madinah dan hadir di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Penting menjadi perhatian bagi Pemerintah Indonesia terhadap seluruh jamaah haji Indonesia yang bisa memasuki Arab Saudi baik melalui visa haji kuota maupun visa non kuota, adalah memberikan perlindungan dan pelayanan kepada jamaah haji Indonesia sebagaimana amanat UUD 1945 pasal 28 D ayat (1), juga dalam Undang-undang RI Nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri pada bab V pasal 18 – 24. Kuncinya pada SDM Tanpa mengabaikan aspek-aspek lain, kesiapan dan kunci sukses penyelenggaraan haji adalah sumber daya manusia (SDM). Memang sudah sejak lama pemerintah melalui Kementerian Agama berupaya meningkatkan kompetensi dan profesionalisme SDM, baik dari kalangan Kemenag sendiri maupun pihak swasta seperti biro perjalanan, yang mendapat amanah untuk ikut menyelenggarakan haji. Salah satu langkah strategis yang ditempuh Kementerian Agama untuk meningkat

Jalani dengan Hati dan Cintai yang Kita Kerjakan

Masuk sebagai 7 besar Politeknik Terbaik se-Indonesia, PNJ terus melakukan evaluasi diri agar lulusannya memenuhi kualifikasi industri.

Sebagai Perguruan Tinggi Vokasi, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia di industri. Sistem pendidikannya mempertemukan ilmu dan teknologi secara harmonis, demi hasilkan lulusan yang kompeten.

Masih tidak kenal PNJ?  Berikut petikan wawancara Hendarman MD dari FAKTAREVIEW.COM dengan Direktur Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) periode 2020 – 2024, Dr. sc H. Zainal Nur Arifin, Dipl. – Ing., MTL., M.T., yang mengungkap lebih mendalam tentang PNJ dari Direkturnya.

Sebagai Direktur PNJ yang baru, apaprogram unggulan yang ditawarkan sehingga Anda terpilih menjadi Pimpinan Tertinggi PNJ saat ini?

Mungkin mereka melihatnya karena saya sudah punya pengalaman, sudah 2 (dua) periode menjadi Wakil Direktur semasa kepemimpinan Bapak Abdillah:periode pertama di Bidang Kerjasama dan kedua di Akademik. Selain itu,mungkin juga karena kedekatan saya dengan Direktur yang lama.Sering mendampingi beliau,saat menghadiri undangan dimana-mana.

Atau mungkin mereka berharap banyak dari saya,sebagai alumni angkatan pertama PNJ pada tahun 1982. Setelah lulus, saya mendapat beasiswa Bank Dunia melanjutkan S-1 di Hochschule Rapperswill– Swiss. Saatitu PNJ sudah menjalin kerjasama dengan Politeknik Swiss, setelah lulus saya kembali dan mengajar di PNJ.

Ketiga banyak rencana program yang saya ajukan, karena selama dua periode menjadi Wakil Direktur minimal sudah tahu yang sudah maupun belum dicapai dan kendalanya. Maka fokus saya pada masalah akreditasi, karena program studi kita masih belum banyak yang mendapat A, padahal PNJ termasuk salah satu Politeknik tertua.

Menurut saya Akreditasi menunjukkan performakinerja,lantaran suatu Perguruan Tinggi dikatakan baik dilihat dari akreditasinya. Selanjutnya masalah reputasi yang dilihat dari ranking. Saat ini PNJ masih berada di ranking 7 yang menurut saya belum maksimal,sebab itu juga menjadi fokus utama saya.

Keempat karena Visi Misi kita di tahun 2020 harusnya sudah menjadi rujukan kelas Asia Tenggara, tapi kita nampaknya belum dapat mencapainya. Terbukti dengan akreditasi yang masih belum berada di posisi top secara nasional, meski lulusan kita sudah memiliki daya saing di tingkat Asia Tenggara.

Jadi apa kendalanya, sehingga terhambat seperti itu?

Yang pertama karena masalah SDM, sekarang dituntut keberadaan banyak Dosen yangyang bergelar Doktoral (S3). Mungkin dulu tidak menjadifokus, karena anggapan kalau Vokasi tidak perlu Dosen Doktoral. Tapi dari sisi akreditasi maupun reputasi, masih tetap disamakan dengan universitas, sehingga Dosennya juga harus S3. Makanya,sekarangakan kami genjot.

Kedua, kita juga dituntut keharusan penelitian Dosen dipublikasikan dalam jurnal internasional. Para Dosen kita masih sibuk mengajar saja, sehingga menjadi tantangan yang memang sekarang harus kita dorong. Salah satu caranyadengan mendorong Dosen-dosen muda,sekaligus agar melanjutkan S-3melalui pemberian beasiswa.

Selanjutnya, tentang sarana dan prasarana. Peralatan bengkel Politeknik memang cukup mahal, sementara danadari pemerintah terbatas.Akibatnya tidak setiap tahun kita dapat mengikuti perkembangan alat yang ada di industri, padahal sebagai pendidikan Vokasi harus selalu up to date.

Oleh karena itu dalam strategi ke depan, kita memperbanyak kerjasama industri. Denganbersinergi, mahasiswa di setiap Program Studi akanditambah praktek atau magang di industri. Jadi peralatan industri kita manfaatkan untuk belajar, sebagai bagian teaching industry. Siapa tahu, mereka juga ingin menghibahkan alat-alatnya kepada Politeknik.

Dalam masa pandemi Covid19 ini, bagaimana pola pendidikan yang dijalankan Politeknik Negeri Jakarta?

Untuk kurikulum pendidikan di PNJ, terdapat keseimbangan harmonis antara teori dan praktek. Pada mata kuliah teori,lebih mudah untuk di-online-kan yang jauh sebelumnya sudah dianjurkan. Memang beberapa Dosen masih kesulitan mengajar secara daring (dalam jaringan),tetapi dengan adanya pandemi Covid-19 ini, mau tidak mau harus dilaksanakan. Meski agak sedikit tergagap, terutama Dosen-dosen senior yang belum begitu memahami IT.

Jadi selama masa pandemi ini, Proses Belajar Mengajar diharuskan secara Work from Home (WfH).Kalau tidak salah kita mulai pertengahan Maret sampai akhir semester lalu, praktis semua pembelajan dilakukan melalui daring. Termasuk mata kuliah praktek sebagai perwujudan kompetensi, tanpa mengurangi kualitas materi pembelajarannya.

Tentu dengan tetap mengikuti protokol kesehatan,seperti mengenakan masker dan jaga jarak.Juga kita buat jadwal shift,sehingga tiap kali praktek bengkel hanya diisi setengah kelas. Ada juga praktek-praktek yang dapat disimulasikan melalui daring,jadi mahasiswa tidak harus datang.

Akhirnya,kita memulai lagi Tahun Akademik baru dan masih diharuskan pembelajaran secara daring sampai pandemi berakhir. Akan tetapi sekarang kita sudah mempersiapkan Dosen-dosen melalui bimtek (bimbingan teknis), kita bimbing dan beri pendampingan agar dapat melakukan pengajaran secaradaring. Mudah-mudahan semester depan akan lebih baik, khususnya bagi Dosen-dosen senior

.Adakah hambatan yang Anda rasakan untuk pembelajaran secara daring?

Hambatan pertama masalah jaringan, karena mahasiswa PNJ tersebar di seluruh Indonesia.Kita tidak tahu lokasi, bila dipelosok tentunya akan mendapat kendala masalah sinyal. Kendala kedua beban pulsa, untungnya pemerintah memberikan subsidi pada semester ini atau depan berupa transfer paket pulsa bagi Dosen maupun mahasiswa. Selain itu, bekerjasama dengan provider Telkomsel dan Indosat dan kami sudahmendata nomor HP yang mereka gunakan.

Menurut Anda, apakah pendidikan di PNJ saat ini sudah sesuai dengan yang diharapkan?

Memang masih belum maksimal bila dibandingkan dengan perkuliahan di luar negeri, seperti pendidikan Vokasi di Swiss atau Jerman. Pada umumnyabased kurikulum kita masih banyak yang belum matchingdengan industri,sehingga belum semua lulusan terserap.

Kunci keberhasilan pendidikan Politeknik atau Vokasi adalah praktek yang menjadi dasar kompetensimahasiswa, terutama magang di luar kampus. Hal ini berarti kita harus menjalin kerjasama dengan industri,karena sebagian besar industri masih belum punya kepedulian kepada perguruan tinggi, untuk menfasilitasi atau menerima magang mahasiswa. Juga pemerintah tidak ‘memaksa’ industri menyediakan tempat magang, sehingga kita harus mencari sendiri.

Industri maunya instan sajadengan hanya mengambil lulusan terbaik, tanpa mau terlibat dalam prosesnya.Untuk itu perlu kiranya dibuat kebijakan atau peraturan pemerintah, seperti Peraturan Presiden yang memberikan insentif berupa keringanan pajak bagi perusahaan yang bekerjasama dengan pendidikan. Namun menurut saya belum cukup, karena hukumnya bukan wajibmasihsunnah bagi industrinya.

Kalau di Eropa, selain insentif juga diberikan punishmentmelalui Peraturan Pemerintah yang mewajibkan kerjasama dengan dunia pendidikan berupa penyediaan tempat magang. Kalau industri disana tidak menerima magang,perusahaannya dapat di-blacklist oleh pemerintah.

Untuk birokrasi, apakah saat inisudah sesuai harapan Anda? 

Birokrasi, khususnya di Pendidikan Vokasi, sudah ada perubahan.Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sekarang terdapat Dirjen Pendidikan Vokasi yang khusus menangani politeknik maupun Sekolah Vokasi. Dengan begitu birokrasinya menjadi lebih cepat, sehingga kebijakan-kebijakan bisa diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan kita.

Apa harapan Anda dengan adanya Dirjen yang khusus menangani Vokasi?

Bagus sekali adanya Dirjenyang khusus menangani Vokasi ini, karena mereka tahu Politeknik berfokus pada kerjasama industri. Mereka dapat memberikanpendanaan hibah untuk menginisiasi kerjasama dengan industri, mengembangkan kurikulum dan sinergitas.Bahkan mereka juga mendorong agar para ahli di industri mengajar di PNJ,sehingga mahasiswa mendapatkan ilmu dan wawasannya.

Untuk Dosen yang sudah S3 di PNJ, berapa banyak?

Doktor di PNJ saat ini sudah 50% dari jumlah keseluruhan 300 Dosen, walau sebenarnya masih kurang untuk mendapatkan Akreditasi A. Jadi kita harus memiliki Doktor sebanyak 70 – 80% , yang tadi saya bilang akan ditingkatkandengan mendorong para Dosen kuliah lagi.

Cuma kendalanya sebagian besar Dosen senior yang sudah mengajar sejak saya masih kuliah, artinya dalam 4 – 5 tahun mendatang mereka sudah pensiun. Sehingga kemungkinan kita tidak bisa lagi mendorong mereka, karena barangkali beliau juga tidak mau. Makanya himbauan untuk kuliah lagi lebih kita tujukan bagi Dosen-dosen muda dan mengadakan program perekrutan Dosen baru.

Apakah di PNJ menyediakan beasiswa bagi para dosen yang ingin meneruskan kuliah S-3 atau beasiswa dari pihak lain?

Bagi Dosen yang ingin studi lanjut ke S3 terdapat beasiswa yang disediakan Dikti, cuma memang harus bersaing dengan perguruan tinggi lain.Kalau dari PNJ sendiri belum ada program beasiswa, tetapi kami memberikan bantuan kuliah untuk S3 sekitar sepuluh juta rupiahpersemester tanpa melihat besaran biayanya kuliahnya.

Bagaimana rencana PNJ dalam meningkatkan kerjasama dengan Politeknik Luar Negeri?

Sebenarnya kerjasama dengan Politeknik di luar negeri, sudah banyak dibuat MoU.Hal ini juga menjadi salah satu program saya untuk melanjutkan dan memaksimalkannya. Karena masih banyak yang hanya berhenti pada MoU, walaupun ada pertukaran mahasiswa sebagai wujudnya.

Kita akan lanjutkan dengan pertukaran dosen, misalnya. Supaya dosen punya wawasan internasional, sehingga nanti mereka akan kita kirim untuk mengajar. Itu yang saya programkan, agar para dosen merasakan dan mengalami langsung sistem pengajaran di luar negeri, sehingga mereka memiliki wawasan, pola berpikir, maupun cara mengajar yang berlaku secara internasional dan mampu mengubah kebiasaan disini.

Untuk kerjasama dengan Pemkot Depok sendiri, bagaimana?

Selama ini hanya dari Pemprov Jawa Barat kita mendapat bantuan beasiswa bagi mahasiswakurang mampu yang tinggal di Jawa Barat.Secara materi memang belum ada subsidi dari Pemkot Depok, selainkerjasama pengabdian masyarakat berupa wilayah yang kita kembangkan sebagai desa binaan.

Tadinya saya mau minta bantuan untuk rapidtest, tetapi sudah kita danai sendiri. Karena itu, saya akan minta bantuan untuk swab test,  yang direkomendasikan ke Dinkesnya Depok.Mudah-mudahan ke depan, siapa pun yang terpilih nanti sebagai Kepala Pemerintahan Depok dapat mewujudkan subsidi melalui kerjasama yang lebih luas.

Anda sudah menjabat sebagai Direktur PNJ beberapa bulan, apa saja yang sudah Anda kerjakan?

Yang utama untuk mencapai nilai akreditasi‘unggul’, paling cepat dilakukan dengan meningkatkan nilai reputasi. Sedangkan untuk SDM butuh waktu, seperti yang tadi saya katakan. Tapi poin-poin yang bisa dilakukan dengan cepat tengah kita laksanakan, sebagai contoh sistem informasi yang terintegrasi.

Untuk pembangunan sistem informasi terintegrasi yang kita lakukan,misalnya pada ujian masuk bagi mahasiswa baru yang biasanya dilakukan secara offline kemarin kita lakukan melalui daring. Kemudian sistem informasi antar bidang kita kembangkan, supaya data-data terintegrasi dengan baik. Ini yang sekarang kita utamakan, karena mempunyai nilai yang sangat signifikan dalam akreditasi.

Obrolan santai Pak Dir, adakah dulu tersirat dalam hati Anda ingin menjadi Direktur PNJ?

Sebenarnya kalau dibilang tersirat,nggak sih. Kalau saya menjalani sebagai Dosen, ya sudah ternyata passion saya mengajar seperti itu. Namunsaat melanjutkan S1 di Swiss, saya terobsesi harus jadi seperti Dosen di sana yang banyak berasal dari industri. Agar mahasiswanya tidak hanya menerima teori, tetapi juga memiliki pengetahuan praktek industri.

Makanya tempo hari saya juga aktif di industri, mengajar sambil kerja. Tetapi ketika saya kembali setelahmendapat beasiswa S3 ditawarkan membantu Direktur untuk menggawangi bidang kerjasama, karena saya punya link dengan industri.

Akhirnya saya berpikirsaya sampai S3 dibiayai terus(Beasiswa S -1 Bank Dunia di Hochschule Rapperswill– Swiss, Beasiswa S-2 dari BPPS di Universitas Indonesia dan Beasiswa S-3 dari DIKTI di Swiss Federal Institute of Technology, Swiss), ya sudah sekarang mengabdilah. Jadi sebenarnya, saya tidak terpikirakan menjadi Direktur.

Begini cerita awal kejadiannya. Direktur yang lama sudah menjabat dua periode, sehingga tidak bisa mengajukan lagi. Begitu periode kedua Direktur berakhir, saya diminta oleh teman-teman Dosen khususnya para Dosen senior yang dulu mengajar saya untuk maju menjadi Direktur demi memajukan PNJ.

Kemudian atas dorongan mereka, saya coba. Saya jalani, kalau memang diberi amanah. Alhamdulillah. Karena tekad saya menjadi Direktur ingin mengubah PNJ menjadi lebih baik dan maju dari sebelumnya.

Saat ini sudah dikaruniai berapa orang anak?

Saat ini saya dikarunia 3 anak (2 putra dan 1 putri) dan alhamdulillah ketiganya sudah menjadi Dokter. Lengkapnya, ini nama istri dan anak saya:

Istri                 :Kusumani Dewi P.H., S.E.

Anak              : 1. dr. Tiffano Taufan Firdaus (Puskesmas Kec.Ciracas, Jaktim)

  1. dr. Nico Aldrin Avesina (RS Melia Cibubur, Jakarta Timur)
  2. dr. Clarissa Maharani Putri (RSUD Ciawi, Bogor)

Saya hanya memberikan pesan kepada anak-anak,“Do by heart and love what you do,” jalani dengan hati dan cintai yang kita kerjakan. Alhamdulillah, ketiga anak saya berhasil menjadi Dokter.

Saat waktu luang bersama keluarga, apa yang sering dilakukan?

Saya paling suka liburan bersama keluarga ke Puncak atau ke tempat lain. Tapi kalau saat ini sulit, anak-anak sudah kerja semua.Mengatur waktunya agak susah, karena sebagai dokter terkadang hari libur pun masih masuk. Kalau tidak liburan, saya, istri ,juga anak-anak hanya berjoging saja di lingkungan perumahan.

Bagaimana kiat Anda membina keluarga?

Sebagai orangtua, harus jadi contoh panutan. Jadilah orangtua yang baik. Seperti hal kecil: saya dari dulu tidak merokok, anak-anak saya ikut tidak merokok. Karena kalau dia merokok, bapaknya saja tidak. Contoh kedua: bapaknya saja sekolah terus dan rajin belajar,mosok iya sebagai anak tidak rajin belajar. Anak-anak diarahkan, jangan terlalu otoriter.Terserah mereka, yang penting masih menjaga nilai-nilai kebaikan.Itu saja, sih.

Yang terpenting, ketika anak-anak masih kecil pendidikan agama diperkuat. Walaupun mereka tidak masuk pesantren, tapi saya tekankan untuk menjaga ibadah.Terutama shalat maupun mengajinya. Saat anak-anak sudah dewasa, mereka sudah memiliki dasar pegangan agama. Alhamdulillah sudah terbiasa melakukan kewajibannya sendiri,karena bila kita terlambat mendidik agamanya akan menjadi susah ketika dewasanya.Itu saja  kuncinya.

Obsesi Anda yang belum tercapai?

Saya tidak punya obsesi.Yang penting dan menjadi pegangan bagi saya, hanya satu. Saya harus lebih baik dari orangtua dan anak-anak harus lebih baik dari saya. Itu saja yang selalu saya sampaikan.Jadi anak kita pacu, kasih arahan dan jangan lupa kasih semangat. Sampai tertanam dalam diri anak, oh iya ya saya harus segera selesai jadi dokter.

Alhamdulillah, saya lebih baik dari orangtua saya untuk pendidikan maupun ekonomi.Karena dulu waktu saya mau kuliah kedokteran di swasta, orangtua tidak sanggup. Saya berhasil membiayai anak kuliah di Fakultas Kedokteran. Dari awal saya bilang ke anak-anak: kamu maunya jadi dokter, berarti kamu sudah lebih dari saya.Kenapa? Karena saya tidak bisa jadi dokter. Walaupun kalian belum punya apa-apa dari sisi ekonomi, tapi minimal kamu sudah lebih dari saya.

Keinginan yang belum tersampaikan?

Saya dulu sempat ingin punya mesjid, tetapi ada opsi lain dari orangtua.Bapak sudah meninggal, ibu masih ada tetapi sering sakit. Beliau bilang, rumahnya diwariskan ke anak-anaknya.

Kebetulan rumah Ibu dempet dengan mesjid. Daripada saya beli lahan baru, saya pikir lebih simple untuk perluasan masjid. Jadi saya bilang kepada saudara-saudara saya, pastinya kalian tidak mau tinggal disitu. Jatah orangtua saya beli, juga beberapa jatah adik-adik. Harapan saya, semoga nanti pahalanya sampai buat orangtua kita, aamiin..

 

—oo0oo—

Share Article:

1 Comment

  • Sobaruddin lubis

    Luar biasa pak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: Undefined property: stdClass::$data in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 4894

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 5567

Berita Terbaru

  • All Post
  • Autotekno
  • Beauty
  • Berita
  • Dunia
  • Ekonomi & Bisnis
  • Foto
  • Gaya Hidup
  • ILD
  • Konsultasi
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Photography
  • Redaksi
  • Sosok
  • Travel
  • Uncatagories
  • Warna
    •   Back
    • Politik
    • Hukum
    • Daerah
    • Pendidikan
    • Wawancara
    •   Back
    • Peluang Usaha
    • Entrepreneur
    •   Back
    • Fashion
    • Kesehatan
    • Travelling & Kuliner
    •   Back
    • Motivasi
    • Inspirasi
    • Training & Seminar
    • Info Warga
    • Komunitas

FAKTAREVIEW

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.
Edit Template

faktareview

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Semoga konten-konten faktareview.com yag hadirkan bisa dinikmati, bisa memenuhi kebutuhan informasi serta bisa ikut membangun kesadaran masyarakat  menuju masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Terimakasih Telah Berkunjung