Setiap Cobaan Datang Sebuah Proses Pendewasaan Diri |

Hot News

Masihkah NU Netral dalam Pemilu 2024?

Masihkah NU Netral dalam Pemilu 2024?

Oleh: Mubasyier Fatah

Enterpreuner/Bendahara Umum PP MATAN

Menilik sejarahnya, NU (Nahdlatul Ulama) merupakan organisasi Islam yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di  Surabaya. Sejak  berdirinya, NU berkomitmen  memperkuat ajaran Islam  tradisional, menjaga persatuan umat Islam, dan berpartisipasi dalam pembangunan sosial dan politik  Indonesia.

Dalam perkembangannya, keanggotaan NU mencapai puluhan juta orang, terdiri dari ulama, santri, dan masyarakat umum. Organisasi ini pun memiliki ribuan pesantren di seluruh Indonesia yang menjadi pusat pendidikan agama dan sosial.

Sepanjang sejarahnya NU memiliki peran yang signifikan dalam politik Indonesia. Organisasi ini diketahui  telah menyumbangkan sejumlah kadernya  menjadi anggota parlemen.

Setelah reformasi pecah pada 1998 silam, NU pernah menempatkan satu tokohnya di istana yakni Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang ditentukan lewat MPR. Gus Dur memimpin negara ini dengan didampingi Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Bahkan, sejak Pemilihan Umum (Pemilu) langsung pertama kali pada 2004 hingga sekarang, telah ada lima tokoh NU yang ikut mencalonkan diri dalam ajang Pilpres.

Pada tahun 2004 setidaknya ada tiga tokoh NU ikut meramaikan pemilu presiden langsung yaitu Mantan Wakil Presiden RI Hamzah Haz yang mendaftar sebagai calon presiden; Salahuddin Wahid atau Gus Solah menjadi cawapres  mendampingi Wiranto, dan Hasyim Muzadi yang kala itu sebagai Ketua Umum PBNU dipinang menjadi cawapres dari capres Megawati Soekarnoputri.

Tidak hanya itu. Kader terbaik NU pun merasakan duduk di istana. Pertama Abdulrachman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI ke-4 (20 Oktober 1999–23 Juli 2001). Kedua,  Hamzah Haz yang menjadi wakil presiden dalam pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri periode 2001-2004.

Terakhir adalah K.H. Ma’ruf Amin yang menjadi Wakil Presiden ke-13 RI mendampingi Presiden Joko Widodo  periode 2019-202.

 

Munas NU bicara tentang netralitas berpolitik

Komitmen NU untuk berperan aktif dalam pembangunan sosial dan politik di Indonesia tampak nyata dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Pondok Gede pada 18 – 20 September 2023.

Munas NU dan Konbes  yang dihadiri pengurus  seluruh Indonesia menghasilkan rekomendasi bagi warga NU, terutama menjelang tahun politik

Munas dan Konbes tersebut membahas berbagai isu strategis mulai dari kecerdasan buatan hingga sikap NU dalam menghadapi tahun politik 2023.

Bahkan Munas NU pun mengeluarkan sejumlah rekomendasi terkait perkembangan politik Tanah Air.

Salah satu rekomendasinya, NU bersikap netral, tidak terlibat dalam politik dukung-mendukung pada Pemilu 2024.

Terkait itu Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla mengatakan bahwa NU berpolitik berdasarkan nilai, bukan berdasarkan partai atau tokoh tertentu.

Oleh karena NU mengaku tak tertarik terlibat dalam politik yang mendukung satu nama atau partai tertentu.

Pada Juni 2023 lalu Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)  menegaskan bahwa independensi dan netralitas NU dalam pemilu 2024. Artinya, sikap NU tidak pernah berubah sejak pembentukannya di tahun 1926.

Gus Yahya juga menekankan bahwa NU bukan partai politik, sehingga tidak dalam posisi untuk mengajukan bakal calon untuk pemilu.

Namun,  NU mempersilakan apabila ada partai politik yang ingin mengusung kader NU sebagai calon dalam Pemilu 2024.

Menurut Gus Yahya satu-satunya hal yang dilakukan NU terkait pemilu 2024 mendatang adalah bekerja untuk menciptakan masyarakat, tentram dan menjalani pesta demokrasi secara jujur, bersih dan dalam suasana damai.

 

Sembilan panduan bagi kaum Nahdlyin

Sikap “netral” itu juga tertuang dalam sembilan instruksi Munas NU 2023 kepada warga nahdlyin menjelang pemilu 2024.

NU menggariskan bahwa Pertama, politik berarti peran serta warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara utuh berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kedua,  langkah-langkah politik harus berwawasan kebangsaan dan tertuju kepada integrasi nasional, yang senantiasa mendukung persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur lahir batin. Politik harus dilakukan sebagai  ibadah menuju kebahagiaan di dunia ini. dan kehidupan di akhirat.

Ketiga, warga nahdlyin wajib mengembangkan nilai-nilai dasar dan demokrasi. Demi kemandirian politik, NU akan menumbuhkan kedewasaan masyarakat dalam memahami hak, tugas, dan tanggung jawab untuk mencapai kesejahteraan umum.

Keempat, politik harus dilaksanakan berdasarkan moralitas, etika, dan budaya berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusiawi, adil dan beradab, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia, kerakyatan berpedoman pada musyawarah dan mufakat, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. .

Kelima, politik harus dilaksanakan dengan kejujuran hati nurani dan moralitas agama, konstitusional, adil sesuai peraturan dan standar yang disepakati, serta mampu mengembangkan mekanisme reflektif untuk menyelesaikan permasalahan bersama.

Keenam, politik dilakukan untuk memperkuat konsensus nasional dan dilakukan menurut akhlaqul karimah sebagai pengamalan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Ketujuh, politik tidak boleh dilakukan dengan dalih apa pun yang mengorbankan kepentingan bersama dan persatuan yang memecah belah.

Kedelapan, perbedaan aspirasi politik para anggota Nahdlatul Ulama harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu dan saling menghormati untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam politik di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Kesembilan, warga nahdlyin  wajib memahami bahwa politik memerlukan interaksi sosial yang saling menguntungkan dalam pembangunan negara untuk menciptakan suasana yang memungkinkan berkembangnya organisasi-organisasi sosial yang lebih mandiri dan mampu menjalankan perannya sebagai pemersatu, penyalur, dan alat pembangunan masyarakat.

 

Isyarat ketidakknetralan NU

Walaupun  di satu sisi Munas dan Konbes 2023 menghasilkan rekmondasi dan pedoman yang mencerminkan sikap netralitas dalam berpolitik, tetapi di sisi lain ada sinyalemen bahwa sejumlah tokoh NU justru bersikap sebaliknya: tidak netral.

Belum lama ini, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang, Salahudin memberi sinyalemen bahwa menjelang Pilpres 2024 tidak sedikit tokoh NU yang bersikap tidak netral.

Perihal ‘ketaknetralan’ itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar juga memberi sinyalemen  bahwa ada yang mulai lupa dan pura-pura tidak tahu bahwa NU menjaga jarak dengan partai politik sesuai dengan Khittah 1926.

Sinyalemen ketaknetralan NU  tampak pada pernyataan sikap sejumlah tokoh NU  memberikan dukungan kepada partai dan figur politik tertentu.

Pentolan NU dari keluarga Gus Dur (istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid dan putrinya Yenny Wahid) mendekatkan diri dengan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto

Sayangnya, sikap ‘lupa dan pura-pura tak tahu’ itu tidak terjadi di kalangan tokoh-tokoh NU saja, melainkan juga di kalangan warga nahdlyin.

Tidak hanya itu, ada pula para tokoh  NU yang berpihak kepada Menteri BUMN Erick Thohir supaya maju sebagai cawapres  Prabowo pada Pilpres 2024.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas  yang adalah tokoh NU bersikap tidak netral terhadap tokoh NU lainnya, Ketum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang telah digandeng Capres Anies Baswedan sebagai Cawapres.

Menag Yaqut melontarkan candaan bernada sinis dengan menyebut pasangan Anies Baswedan-Cak Imin dengan akronomi Amin. Dia bahkan menyebut yang memilih Amin berarti Bidah.

Pernyataan sejumlah tokoh NU  tersebut di atas seakan menggarisbawahi bahwa dalam urusan politik menjelang Pemilu 2024, NU hanya bersikap netral di atas kertas, tetapi bersikap tidak netral di lapangan.

 

Harapan masih tinggi terhadap NU

Sikap NU yang “ambigu”  menimbulkan pertanyaan, benarkah NU masih berkomitmen memberikan kontribusi positif bagi pembangunan sosial dan politik Indonesia?

Tentu saja yang bisa menjawab pertanyaan ini dengan tepat hanyalah NU sendiri.

Meski demikian, seluruh masyarakat Indonesia tetap menaruh harapan besar terhadap komitmen dan kontribusi positif NU.

Sebab NU mempunyai filosofi yang kuat yaitu “ahlussunnah Wal jamaah” yang artinya mengikuti ajaran Nabi dan mengutamakan solidaritas dan persatuan umat Islam.

Di bidang sosial keagamaan, NU terbukti menjadi organisasi yang selalu mengedepankan toleransi, dialog antaragama, dan menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Kami berharap  NU terus berperan penting dalam memperkuat toleransi dan kerukunan dalam kehidupan berbangsa melalui prinsip-prinsip seperti tawassuth, tawazun, tasamuh dan i’tidal.  Di bidang politik, sejak lahirnya era reformasi dan demokratisasi, NU telah menghadirkan kader-kader terbaiknya di lembaga legislatif dan eksekutif.

Terkait pemilu 2024, kami berharap NU tetap netral dan tidak memihak partai  politik atau politisi atau pasangan capres-cawapres mana pun.

Namun di sisi lain, kami juga berharap dengan banyaknya NU yang terus mendorong warga Nahdliika untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu sebagai  pesta demokrasi.

Selain itu, besar pula harapan kita  agar kader-kader terbaik NU  masuk ke lembaga legislatif dan eksekutif untuk ikut menentukan kebijakan pembangunan nasional yang bertujuan mensejahterakan seluruh warga negara. ***

 

Share Article:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: Undefined property: stdClass::$data in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 4894

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/fakt6635/public_html/wp-content/plugins/royal-elementor-addons/modules/instagram-feed/widgets/wpr-instagram-feed.php on line 5567

Berita Terbaru

  • All Post
  • Autotekno
  • Beauty
  • Berita
  • Dunia
  • Ekonomi & Bisnis
  • Foto
  • Gaya Hidup
  • ILD
  • Konsultasi
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Photography
  • Redaksi
  • Sosok
  • Travel
  • Uncatagories
  • Warna
    •   Back
    • Politik
    • Hukum
    • Daerah
    • Pendidikan
    • Wawancara
    •   Back
    • Peluang Usaha
    • Entrepreneur
    •   Back
    • Fashion
    • Kesehatan
    • Travelling & Kuliner
    •   Back
    • Motivasi
    • Inspirasi
    • Training & Seminar
    • Info Warga
    • Komunitas
Undian yang Halal

✅ Pertanyaan : Bertanya Ustadz, Kapan undian dibolehkan ya? Sukron   ✅ Jawab: Dijawab oleh…

Bacaaan  Dzikir di Pagi Hari

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan…

FAKTAREVIEW

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.
Edit Template

faktareview

Mengulas Fakta Dibalik Berita

Semoga konten-konten faktareview.com yag hadirkan bisa dinikmati, bisa memenuhi kebutuhan informasi serta bisa ikut membangun kesadaran masyarakat  menuju masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Terimakasih Telah Berkunjung