Lampung Tengah, Faktareview.com – Bawang merah merupakan salah satu komoditas strategis dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Lampung Tengah. Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas bawang merah yang telah dikembangkan sejumlah petani di Kecamatan Kotagajah patut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah.
Menurut Zainuri, salah seorang petani dan sekaligus penangkar benih bawang merah di Kecamatan Kotagajah, mengatakan, pada dasarnya Lampung Tengah mempunyai potensi besar untuk mengambangkan komoditas bawang merah sebagai unggulan selain padi dan ubi kayu, dengan memanfaatkan lahan yang tak produktif sebagai lahan tanaman padi. ”Kita bisa memanfaatkan lahan lahan yang tak mungkin bisa dikembangkan tanaman padi, tapi bisa dikembangkan komoditas lain yang juga menguntungkan petani,”katanya, Selasa (30/3).
Untuk pengembangan bawang merah kata dia, sangat tergantung pada iklim oleh karena itu target tanam bawang merah tidak bisa dipastikan, termasuk kualitas pengetahuan petani tentang tanaman bawang merah perlu ditingkatkan.”Selama ini kami belum mempunyai target produksi bawang merah, kami masih terus meningkatkan kualitas sumberdaya petani untuk menguasai teknologi tanaman bawang merah, kami juga berharap perhatian serius pemerintah daerah untuk membina petani,”katanya.
Saat ini kata Zainuri, patani yang mengembangkan komoditas bawang merah sudah merasakan keuntungan, sekalipun beresiko tinggi. Selain masa tanam yang pendek hanya 60 hari, juga didukung harga bawang merah di tingkat konsumen tetap stabil di kisaran Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kg, yang tentunya menguntungkan petani. ”Kalau beberapa tahun lalu petani masih banyak yang coba- coba karena pengetahuan tentang budidaya bawang merah masih minim, tapi saat ini bawang merah sudah menjadi komoditas unggulan selain tanaman padi,”ujar Zainuri.
Petani, khususnya yang tergabung di kelompoknya, ujar Zainuri, tidak ada lagi keraguan untuk terus meningkatkan kemampuan mengembangkan tanaman bawang merah secara mandiri. Dengan memanfaatkan lahan sawah yang tidak ditanami padi karena keterbatasan suplai air dari irigasi, saat ini total luasan tanaman bawang merah di Kotagajah sudah mencapai 3 Ha, dengan produksi mencapai 16 ton per siklus tanam.
Zinuri mengakui, untuk memenuhi kebutuhan benih bawang merah, kelompoknya terus berupaya meningkatkan kemampuan dalam penangkaran benih bawang merah berkualitas. Hal ini untuk mengurangi biaya produksi utamanya untuk beli benih bawang merah, harga benih bawang merah terjadi selisih yang juah bila ditangkar sendiri dengan kualitas yang tak jauh berbeda dengan benih dari Brebes atau Nganjuk. ”Harga benih bawang merah hasil penangkaran petani kita mencapai Rp 35.000/Kg, sedang benih yang dibeli dari Brebes atau Ngangjuk bisa mencapai Rp50.000/kg. Untuk meningkatkan produksi benih bawang merah kami butuh bantuan pemerintah daerah,”katanya.
Keuntungan mengembangkan tanaman bawang merah juga diakui salah seorang petani setempat Supardi, menurutnya walaupun menanam bawang merah beresiko tinggi tapi dirinya tetap optimis akan mendapatkan keuntungan. Saat ini Supardi mengaku hanya menanam bawang merah seluas 1/4 Ha secara mandiri. Untuk lahan 1/4 Ha Supardi membeli benih bawang merah dari Nganjuk Jawa Timur sebanyak 225 Kg dengan harga Rp50.000/Kg.”Saya sudah empat kali panen tanam bawang merah pernah sekali gagal, dalam 1/4 Ha berhasil dipanen bawang merah sebanyak 1,5 ton. Walau menanam bawang beresiko, saya hanya berpikir bagaimana tanaman baik dan harga baik disaat panen, soal resiko ya sudah menjadi tantangan tak perlu pusing,” ujarnya. (pri-FR)